DISKRIMINASI; STEROTIPE BURUK TERHADAP PERPISAHAN: APAKAH PERCERAIAN HARUS MENJADI SEBUAH ALASAN DISKRIMINASI?!


(Sc: Pinterst; Haley Gray)

Helloo smart readers! Wah udah bulan juli aja ya?! Gak kerasa 2025 ini sudah kita lalui setengah jalann. Gimana nih resolusi yang udah dibuat diawal tahun, apakah udah ada yang achive?! Semoga udah banyak resolusi yang ke check list ya! Tapi kalo belum, its okay banget! karena hidup bukan untuk ajang balapan, setiap orang memiliki waktunya masing-masing, dan setiap waktu pasti ada orang nya! Ganbate, Fighting smart Readers! 

kalian pernah gak sih nemuin "Seseorang" yang di pandang buruk karena orang tua nya pisah atau bercerai? padahal Seseorang ini memiliki banyak sekali hal baik, cuma karena diskriminasi dan strerotype buruk lingkungan, ia jadi seseorang yang terlihat berbeda di banding orang-orang yang memiliki keluarga yang utuh? Kali ini Mind Discussion akan membahas sesuatu yang sering kita temui, dan ini adalah sebuah masalah yang seharusnya dapat kita hilangkan. Sebelum makin jauh pembahasan kita tentang Diskriminasi dan sterotype buruk perpisahan kita harus tahu dulu, apasih diskriminasi dan sterotipe? 

Diskriminasi atau discrimination dapat diartikan sebagai sebuah tindakan membanding-bandingkan, dan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara. Dalam undang-undang definisi diskriminasi dapat kita temui dalam 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dalam pasal 1 angka 3 yang mengartikan setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung ataupun tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan, atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan, atau penggunaan hak asasi manusia. Tentu diskriminasi adalah sebuah pandangan buruk pada seseorang ataupun sekelompok orang yang memiliki sesuatu yang berbeda dalam lingkup sosial. 

Berdasarkan Kutipan Wikipedia Stereotipe adalah penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan. Stereotipe merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan membantu dalam pengambilan keputusan secara cepat. Hal ini jelas merupakan hal terbesar untuk menggiring opini publik untuk dapat menilai seseorang hanya berdasarkan penilaian yang intuitif, padahal seseorang tidak dapat di kategorikan hanya dalam sekali lihat dan menilai saja.

Diskriminasi jelas melahirkan Stereotipe yang buruk terhadap seseorang, dan cenderung merugikan Intrapersonal seseorang. Diskriminasi memiliki banyak kategori, dan salah satu yang akan kita bahas adalah Diskriminasi Anak dalam sebuah Perceraian di lingkungan sosial nya, Well well well, Point of view setiap orang jelas berbeda, namun perbedaan tersebut bukan berarti menjadi sesuatu yang dapat menggambarkan seseorang dengan benar dan tepat.

Setelah membahas inti masalah, kita bahas dulu latar belakang dari pembahasan arikel kali ini. "Keluarga" Kata keluarga tentunya gak asing ya di telinga kita. Keluarga merupakan tempat kita pertama kali belajar dan mengenal lingkungan sekitar sejak baru lahir. keluarga di bagi menjadi dua pokok, yaitu nuclear Family artinya keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan para anak-anaknya, dan extended family yaitu keluarga besar terdiri dari adanya kakek, nenek, paman, bibi, sepupu dan keponakan. 

Keluarga adalah lingkungan pertama yang paling berpengaruh dalam menentukan kehidupan seseorang ke depannya. Tentunya, keluarga yang sehat dengan pola asuh yang tepat, dalam sebuah keluarga akan membentuuk lingkungan dan suasana ang kondusif. baik untuk kesehatan mental anak, pembentukan kepribadian anak, maupun pendidikan mendasar seperti sopan santun, hormat menghormati, maupun hal-hal lain yang tidak diperoleh dari pendidikan formal. 

Menurut M. Djawad Dahlan, bahwa sebenarnya fungsi dasar dari keluarga adalah memberikan rasa memiliki, rasa aman, kasih sayang, dan mengembangkan hubungan yang baik antara anggota keluarga. Hubungan cinta kasih di dalam keluarga tidak hanya sebatas perasaan, akan tetapi juga menyangkut dengan pemeliharaan, rasa tanggung jawab, perhatian, pemahaman, respect, dan keinginan untuk menumbuh kembangkan anak yang dicintainya. Keluarga yang hubungan antar anggotanya tidak harmonis, penuh konflik atau gap communication, dapat mengembangkan masalah-masalah kesehatan mental (Dahlan, 2004).

Dari pemaparan teori dapat kita tarik kesimpulan bahwa keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan seorang anak. Tapi banyak pihak yang salah kaprah terhadap makna yang sebenarnya. keluarga memiliki peran besar baik maupun buruk, tapi apakah sebuah keputusan yang di ambil oleh kedua orang tua harus menjadi sanksi sosial untuk anak? kali ini yuk coba kita bahas berdasarkan sudut pandang umum. eitsss peeps, inget ini adalah opini penulis yang berangkat dari kesimpulan dalam dunia nya ya, kalo kalian punya sudut pandang sendiri yuks, kita diskusi di kolom komentar!

Dari data perceraian di indonesia menurut Badan Pusat Statistik menunjukkan tren peningkatan, meskipun ada sedikit penurunan pada tahun 2023. Secara keseluruhan, angka perceraian meningkat dari 408.202 kasus pada tahun 2018 menjadi 463.654 kasus pada tahun 2023, dengan tahun 2022 mencatat angka tertinggi yaitu 516.344 kasus. Penurunan pada tahun 2023 dibandingkan tahun 2022 adalah sebesar 10,2% dan pada tahun 2024 tercatat ada 399.921 kasus perceraian di Indonesia. Angka ini menunjukkan adanya penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, namun tetap menjadi perhatian karena kompleksitas masalah dalam rumah tanggi. 

Dari data tersebut dapat kita bayangkan berapa banyak anak yang terkena dampak sosial dari perceraian yang terjadi, dalam kehidupan nya tentu perceraian membuat banyak sekali dampak untuk anak. Lalu apakah selalu perceraian selalu berujung pada ketidakberpihakan seseorang terhadap anak yang terdampak? dan apakah anak yang tidak menjadi korban perceraian orang tuanya akan mendapatkan keberpihakan dari lingkungan? Tentu tidak.

Menurut penulis, banyak keadaan yang tercipta untuk memberikan sebuah warna atau perjalanan baru, dan mungkin membuat kehidupan nya jauh lebih baik. Namun, Diskriminasi dan sterotype tentu tidak luput dalam kehidupan kita sebagai makhluk sosial. Perlu di ketahui, hal ini menyebabkan banyak sekali orang tua yang memaksakan keadaan hanya untuk menjaga anak-anak mereka dari Diskriminasi sosial, yang padahal mungkin saja keadaan nya sudah tidak dapat lagi diselamatkan, maupun dipertahankan. tentu hal ini menjadi salah satu permasalahan yang cukup menjadi concern untuk kita semua untuk lebih luas dalam berpikir. 

Pasalnya, permasalah ini memberikan dampak buruk yang berkepanjangan untuk tumbuh kembang anak dalam mengolah emosinya. Karena, orang tua yang sulit untuk berbenah adalah orang tua yang masih terjebak dalam kondisi intuitif sosial yang sebenarnya hanyalah angin lalu dan tidak memiliki dampak untuk kehidupan orang tua, namun berdampak besar untuk anak. 

Keberadaan Diskriminasi sosial ini tentu membuat beberapa anak sulit mengartikan bagaimana sebenarnya keluarga berperan, karena orang tua hanyak berpatok untuk bertahan hanya demi status semata, tidak ada rasa dan tanpa kasih sayang, tentu ini cukup memprihatinkan untuk kehidupan anak. lalu siapa yang harus disalahkan? tentu kita semua yang masih memandang sebelah mata Anak korban perceraian atau anak broken home, karena bagi sebagian anak, berada di dalam keluarga hanyalah sebuah bualan harian yang terus menerus harus mereka hadapi dan paksakan, tentu ini hanya karena paksaan orang yang tua yang takut akan Diskriminasi lingkungan. 

Pembahasan ini cukup berat dan kompleks, penulis hanya menulis bagian-bagian yang masih menjadi penerimaan dalam pemikiran yang santai, dari tulisan ini penulis berharap semua smart readers untuk tidak lagi menjatuhkan sanksi sosial yang tidak dilakukan oleh anak- anak yang menjadi korban dari kasus perceraian orang tuanya, karena dampak ini tidak hanya berlaku untuk anak-anak yang menjadi korban dari perceraian orang tua mereka, namun ini juga menjadi sebuah sanksi kehidupan bagi anak-anak yang masih terjebak oleh orang tua yang takut untuk memilih perceraian sebagai sebuah akhir yang manis. Perceraian tidak melulu tentang akhir yang membawa dampak buruk, namun sebenar-benar nya perceraian adalah akhir yang membawa masing-masing insan pada pembelajaran untuk mendewasakan.

"Divorce is not a disgrace, it is the courage to choose peace over pretense."

kayanya artikel ini salah satu artikel yang sangat sulit untuk penulis selesaikan, karena perihal ini tidak akan ada kata selesai, tapi penulis berharap smart readers dapat memahami apa pesan yang dapat di ambil dari artikel-artikelan kali ini, terima kasihh sudah membaca artikel ini sampai selesaii, sampai jumpa di artikel-artikelan selanjutnyaaa!!<3


Komentar