FATHERLESS GENERATION; FENOMENA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK. APAKAH BERKAITAN?!

 

(Sc: pin@yu0de)

Jalan-jalan ke Cikini, Jadi bahas apa kita hari ini? HIHI
Hello smart readers! waduhh kalo di lihat dari timeline nya Artikel-artikelan udah libur hampir 3 bulan, yaa maklum ya peeps anak satu ini banyak ide tapi eksekusinya nihil HAHA. Ga kerasa kita udah ada di penghujung tahun huhu, gimana keadaan kalian? semoga selalu sehat yaa karena cuaca yang gampang banget berubah-ubah, stay health, stay cool and stay keep calm ajaahh... CKCK

Sebagai pengguna media sosial, pasti kalian udah gaasing lagi dengan banyaknya berita-berita yang beredar mengenai issue issue yang makin kesini makin banyak kasusnya. Mungkin beberapa waktu belakangan banyak sekali kabar mengenai perpisahan, keracunan, hutang kereta itu tuh aduh lupa namanya (Takut di tangkep), dan ngedit foto meme yang di tahan WKWK.

Kali ini, Mind Discussion akan bahas satu issue dari banyak nya kasus di indonesia. Mungkin banyak dari kita sudah mengetahui issue yang cukup serius di indonesia, yaitu issue Fatherless Generation. Sebelum kita makin jauh, kita harus tau dulu apa sih Fatherless?

Dari namanya Fatherless, tentu kita tahu bahwa nama ini diambil dari 2  kata yang menggunakan bahasa inggris yakni, Father (Ayah) dan Less (Kurang/sedikit) dari dua arti ini sebagai orang awam, kita akan berpikir bahwa ayah yang kurang, loh? kurang apa niehh maksudnya?!  

Menurut  Buckley (2018) ia mendefinisikan fatherless sebagai ketiadaan peran dan figur ayah dalam kehidupan anak, dan (Dasalinda  &  Karneli,  2021) berpendapat bahwa Fatherless merupakan ketiadaan peran atau figur seorang ayah dalam kehidupan perkembangan anak. Ketiadaan peran ayah berupa ketidakhadiran secara fisik, psikologis dan  emosional  dalam  kehidupan  anak. Dari dua pendapat tersebut dapat kita simpulkan bahwa fatherless adalah sebuah situasi dimana seorang ayah tidak memiliki peran dan figur terhadap tumbuh kembang anak.

Eitss, situasi ini tentu tidak hanya terjadi pada tumbuh kembang anak di usia dini saja. Namun, hingga dewasa. Bahkan dalam islam peran ayah bukan hanya sebatas pencari nafkah, tetapi juga pembimbing, pendidik, dan teladan dalam keluarga. Ayah adalah figur yang seharusnya menanamkan iman dan adab kepada anak-anaknya. Kehilangan sosok ini, atau fatherless, akan memutus mata rantai keteladanan dalam keluarga. Pada titik ini kita memiliki pemahaman bahwa peran ayah bukan hanya sebatas penting. Tetapi sangat-sangat menjadi sebuah ketentuan dalam pembentukan karakter dan tumbuh kembang anak secara fisik, psikologis dan emosional.

Pembahasan Issue Fatherless dibeberapa tahun terakhir menjadi  kajian  menarik  tentang  fenomena  timpang  tindihnya  peran  dalam  mengasuh anak. Fatherless disebut father  absence dan father  hunger dan ternyata ini telah  menjadi  permasalahan internasional,  contohnya  di  USA,  Swedia,  Inggris,  Norwegia,  Australia,  Cuba,  Afrika, Belanda, Finlandia dan termasuk  Indonesia. Dilansir berdasarkan artikel Beautynesia.id dengan judul “Hari Ayah Nasional : Indonesia Jadi Negara Fatherless Ketiga di Dunia, Apa Itu?” menjelaskan bahwa indonesia darurat issue Fatherless, indonesia menduduki urutan ketiga Fatherless country in the world. Wow tentu ini merupakan capaian yang sangat mengkhawatirkan untuk indonesia. 
 


Dilansir dari Kompas yang mengolah data Mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik (Susenas BPS) Maret 2024, Sebanyak 15,9 juta anak Indonesia ditemukan tumbuh tanpa sosok ayah atau fatherless. Hal ini menjadi perhatian khusus dari masyarakat, terutama ahli di bidang psikologi. Anak Indonesia yang fatherless ini setara 20,1% dari total 79,4 juta anak berusia kurang dari 18 tahun. Dari 15,9 juta anak fatherless, 4,4 juta anak tinggal di keluarga tanpa ayah. Sementara itu, 11,5 juta anak lain tinggal bersama ayah dengan jam kerja lebih dari 60 jam per minggu atau lebih dari 12 jam per hari. 

Namun, menurut Ust. Bendri Jaisyurrahman pada podcast momscorner pada Channel youtube Nikita Willy Official, disebutkan bahwa jarak dan waktu bukan lah sebuah alasan untuk seorang ayah yang memiliki seorang anak. Ustad Bendri juga menyebut penting adanya keterlibatan dari istri sebagai public relation kepada anaknya. Yang mana tugas istri sebagai PR dalam rumah tangga untuk membentuk image ayah yang baik. Ustaz Bendri juga mengungkap pandangan anak-anak terhadap fungsi ayah dalam keluarga. Dalam pendapat anak-anak, fungsi ayah hanya sebagai pemberi nafkah dan pemberi izin untuk menikah, dan ini adalah jawaban dari sebagian besar jika ditanya seputar apa fungsi seorang ayah dalam kehidupan mereka.

Pada kenyataan nya banyak sekali anak yang tumbuh tanpa adanya peran ayah yang cukup. Entah karena Perceraian, kematian atau bahkan hadir secara fisik namun tidak secara emosional. Dari bahasan di atas tentu kita sudah paham bahwa betapa penting nya peran ayah bagi seorang anak. Istilah Fatherless ternyata memiliki beberapa penyebab. Berdasarkan hasil penelitian osenthal   (2010) mengkategorisasikan   6   penyebab   anak termasuk  kedalam situasi fatherless yaitu  :  
  1. The  Disapproving  Father atau  ayah  pengkritik
  2. The Mentally Father atau ayah dengan penyakit mental,
  3. The Substance-Abusing Father atau ayah dengan ketergantungan zat, 
  4. The Abusive Father atau ayah yang melakukan kekerasan, 
  5. The Unreliable Father atau ayah yang tidak dapat diandalkan,  dan 
  6. The Absent  Father atau  ayah  yang  tiada.
Penyebab yang disebutkan di atas tentu menjadi sebuah tantangan besar untuk kita semua dalam menghadapi issue tersebut. Pasalnya issue Fatherless merupakan issue kompleks dimana perempuan juga perlu andil di dalam nya. Kenapa? Dalam hal memilih pun lagi-lagi perempuan dituntut untuk cerdas dan berpikir panjang. Karena permasalahan ini merupakan polemik yang sangat berkaitan dengan pola pikir serta pengetahuan orang tua dalam melakukan parenting.

Sebagai penulis, saya sering menemukan kasus sepaham, diantara penyebab yang sudah di sebutkan diatas, tentu ini sangat disayangkan. karena ternyata, penanggulangan permasalahan ini masih sangat minim dan bahkan tidak pernah ditemukan sama sekali. Dibeberapa lingkungan yang memiliki pemahaman dan pendidikan yang kurang, permasalah ini hanyalah sebatas bualan semata. Karena lagi-lagi perihal kesehatan mental dan implikasi buruk sebuah perilaku yang terus menerus di normalisasikan adalah hal yang dianggap tidak serius dan perlu diperhatikan. Jelas ini merupakan kerusakan massal yang lagi-lagi anak yang menjadi korban.

Lalu, apakah fenomena ini memiliki implikasi terhadap pembentukan karakter anak? 

Fatherless merupakan fenomena sosial kompleks dengan dampak luas pada individu, keluarga, dan masyarakat. Tentu, fenomena Fatherless ini memiliki dampak yang besar terhadap pembentukan karakter anak, pasalnya anak membutuhkan ikatan emosional dan batin terhadap orang tua, apabila anak merasa kehilangan sebuah peran dari orang tuanya, terutama ayah. Maka bukan tidak mungkin anak tersebut akan kehilangan rasa aman dan tidak memiliki satu rolemodel pasti yang ia lihat dan rasakan secara emosional yang bersifat terikat. 
  
Menurut (Supriani & Arifudin, 2023).  Kehadiran  seorang  ayah  sangat  mempengaruhi  kehidupan  anak, memberikan  kesan  yang  baik  sehingga  pertumbuhan  dan  perkembangan  anak menjadi seimbang. Namun, tidak semua anak memiliki kehadiran seorang ayah. Permasalahan ini sering disebut sebagai fatherless, yaitu ketika anak tidak memiliki atau kurangnya peran ayah dalam proses perkembangan dan pertumbuhan anak menurut (Freeks & De Jager, 2023; Hidayah dkk., 2023; Munjiat, 2017; Wulandari & Shafarni, 2023).

Dilansir melalui website Halodoc.com. Menurut WHO, keluarga yang suportif dan penuh kasih sayang merupakan fondasi penting bagi kesehatan mental dan perkembangan anak. Ketiadaan figur ayah dapat mengganggu fondasi ini.

Dampak Emosional
Anak-anak yang mengalami fatherless mungkin menunjukkan masalah emosional seperti:

  • Rasa tidak aman dan cemas.
  • Kesedihan dan depresi.
  • Kemarahan dan agresi.
  • Harga diri rendah.
  • Kesulitan mengelola emosi
Para ahli menekankan pentingnya dukungan psikologis bagi anak-anak yang mengalami kehilangan orang tua. Konseling dan terapi dapat membantu anak mengatasi masalah emosional yang muncul.

Dampak Kognitif
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh tanpa ayah mungkin mengalami:

  • Kesulitan berkonsentrasi.
  • Prestasi akademik yang lebih rendah.
  • Masalah perilaku di sekolah.
Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak semua anak yang mengalami fatherless akan mengalami masalah kognitif. Faktor-faktor lain, seperti dukungan dari ibu atau wali, kualitas pendidikan, dan lingkungan sosial, juga berperan penting. Pahami lebih dalam mengenai Depresi – Gejala, Penyebab, Pencegahan & Pengobatannya berikut ini.

Dampak Sosial
Dampak fatherless pada perkembangan sosial anak meliputi:

  • Kesulitan membangun dan memelihara hubungan interpersonal.
  • Perilaku agresif atau menarik diri dari lingkungan sosial.
  • Risiko lebih tinggi terlibat dalam perilaku berisiko, seperti penggunaan narkoba atau alkohol.
Anak-anak membutuhkan contoh peran yang positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Ketiadaan figur ayah dapat membuat anak kesulitan mempelajari keterampilan sosial yang penting.

Untuk mengatasi masalah ini, anak dapat diikutsertakan dalam kegiatan kelompok atau ekstrakurikuler yang positif, sehingga dia tetap bersosialisasi dan dapat belajar menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain. 

Dari dampak yang ditimbulkan dari Fenomena ini sangat besar. Tentu ini sangat merugikan anak laki-laki maupun perempuan. Sebagai seorang perempuan berada pada situasi ini merupakan sebuah jebakan dan juga sebuah kerugian yang besar. Banyak sekali kasus perempuan maupun laki-laki yang terjebak dalam toxic relationship dan sulit untuk keluar dari lingkaran setan ini, dikarenakan dampak dari fenomena Fatherless Gen

Sebagai seorang penulis, berada pada situasi ini dan sebagai perempuan, hal ini adalah sebuah mimpi buruk, tidak dapat kita pilih dan sulit untuk dibenahi, karena fatherless merupakan perihal kompleks tak berkesudahan apabila tidak dipandang sebagai sebuah fenomena dan masalah yang sangat serius. Perempuan jadi sulit untuk memiliki pasangan, atau kadang perempuan salah melangkah untuk memilih pasangan. Karena bagaimana tidak? perempuan tidak memiliki role model yang secara penuh dalam ikatan emosional dan pemikiran dengan seorang laki-laki

Setiap masalah akan terasa berbeda. setiap masalah juga terlihat berbeda. Hal ini tentu dibedakan dengan bagaimana cara seseorang menghadapi. Semua akan berbeda tergantung pada bagaimana cara seseorang menghadapi, menilai dan mencerna masalah tersebut. Oleh karena itu, Fenomena ini mungkin tidak banyak berpengaruh bagi beberapa orang, bahkan hal ini menjadi sebuah alasan besar dimana implikasinya malah membawa seseorang menjadi pribadi yang lebih baik, besar dan bersinar. bagaimana mungkin? 

Karena, stigmatisasi  dan  norma-norma  budaya  juga  mempengaruhi  respons masyarakat terhadap fatherless. Agama pun memainkan peran penting, dengan ajarannya tentang keluarga dan peran ayah. Ketidak hadiran ayah dalam keluarga religius dapat dilihat sebagai pelanggaran norma agama, menimbulkan rasa malu dan bersalah. Namun, agama juga dapat menjadi sumber dukungan dan kekuatan bagi keluarga yang mengalami fatherless. Ajaran tentang cinta, kasih sayang, dan pengampunan  membantu  keluarga  mengatasi  rasa  kehilangan  dan  membangun kembali kehidupan. Pemahaman yang lebih baik tentang pengaruh budaya dan agama terhadap fatherless dapat membantu seseorang mengembangkan Strategi koping* yang lebih efektif untuk membantu anak-anak dan keluarga yang terkena dampaknya.

Di penghujung artikel kali ini. Saya sebagai perempuan akan memberikan sebuah kalimat yang terlihat biasa namun luar biasa dalam menghadapi semua fenomena dan kasus, dan kalimat ini merupakan kalimat yang dapat menjadi sebuah mantra dalam menghadapi kehidupan dan menjadi pribadi yang berhasil dalam melakukan coping mecanism:

"It will pass. Keep going, because you didn't come this far just to come this far"


HUHU AKHIRNYA, artikel ini selesai juga, karena judul ini sebenarnya udah menjadi writelist saya dari awal tahun lalu HAHAHA! Semoga artikel-artikelan kali ini bisa memberikan sedikit pemahaman yang membawa kita pada sebuah perubahan besar! AAMIIN.

Sampai jumpa di Artikel-artikel selanjutnyaa! terima kasihh sudah membaca artikel ini sampai selesaii, sampai jumpa di Artikel-artikelan selanjutnyaaa!!<3







Note:
*Strategi koping (Coping Mecanism) adalah upaya mental dan perilaku yang dilakukan individu untuk mengelola, mengurangi, atau mengatasi situasi stres yang menekan. Strategi ini membantu individu mengubah cara mereka berpikir (kognitif) atau bertindak (perilaku) untuk mengurangi tingkat stres dan mendapatkan kembali rasa aman. 


Source:
Google Article:
  1. https://ftk.uinbanten.ac.id/journals/index.php/assibyan/article/view/10017/4990
  2. https://www.halodoc.com/artikel/dampak-fatherless-bagi-perkembangan-anak
  3. https://share.google/RoKCpKi0tNj4lKtgA
Youtube:
  1. https://youtu.be/PaPHz35y3yQ?si=2XRK8XZO37hsEFaQ
Google Scholar:
  1. N Rachmanulia, KS Dewi - … Psikologi Indonesia, 2023 - prosiding.collabryzk.com 










Komentar