PEREMPUAN DAN EMANSIPASI WANITA; PEREMPUAN DENGAN SEGALA SEPAK TERJANG NYA.

(Sc: id.pinterest.com)

Halo Smart Readers! Selamat Hari Kartini, untuk seluruh perempuan hebat di seluruh penjuru dunia!
Hari ini tepat tanggal 21 April dimana kita selalu memperingati hari Kartini. 
Btw, pada pake baju adat ga nih? kebaya mungkin? atau malah ada event kantor dalam memperingati hari Kartini? Ada atau pun enggak, intinya kita harus selalu inget kalo kita pernah diperjuangkan hebat sebagai perempuan Oleh RA Kartini. 

Dalam rangka memperingati hari Kartini, hari ini MIND DISSCUSION akan membahas seputar perempuan dan emansipasinya dalam Artikel-artikelan kali ini. Sebelum makin jauh kaya perasaan aku sama dia (JIAKKHH, CANDA) kita bahas singkat dulu yuk, siapasih RA Kartini dan apa pengaruhnya terhadap emansipasi perempuan?

Kartini Djojoadhiningrat atau dikenali juga dengan gelarnya sebagai Raden Ayu Adipati Kartini atau yang kita tahu Raden Ajeng Kartini, merupakan salah satu pahlawan Nasional Indonesia. Kartini adlaah salah satu pahlawan bangsa dan juga pahlawan untuk Kaum nya yang pada saat itu adalah perempuan jawa. Ia lahir pada 21 April 1879 dan wafat pada 17 September 1904.  

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara. Berbeda dengan kebanyakan anak pribumi saat itu, Kartini berkesempatan untuk sekolah di Europeesche Lagere School (ELS). Ini merupakan sekolah yang diperuntukkan bagi orang Belanda dan orang Jawa yang kaya. Di ELS, Kartini belajar bahasa Belanda. Sayangnya, Kartini hanya bersekolah sampai usia 12 tahun, karena sudah memasuki masa pingitan. Dulu ada tradisi wanita Jawa harus dipingit dan tinggal di rumah. 

Selama dipingit kartini banyak membaca buku dan aktif mengirimkan surat ke teman nya tentang pendidikan dan emansipasi perempuan. Ia menuliskan terkait gagasan-gagasannya baru mengenai emansipasi perempuan. Kartini menuliskan penderitaan perempuan Jawa seperti harus dipingit, tidak bebas dalam menuntut ilmu, dan adanya adat yang mengekang kebebasan perempuan. 

Pada tahun 1903, Kartini menikah dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan bupati Rembang saat itu. Karena sudah menikah, gelar Raden Adjeng yang dimiliki Kartini berubah menjadi Raden Ayu. Meskipun sudah menjadi seorang istri, Kartini tetap ingin melanjutkan cita-citanya memperjuangkan kesetaraan perempuan dan menjadi guru. Suami Kartini mendukung dan memberi kebebasan terhadap cita-citanya. Salah satu bentuk dukungannya adalah dengan mendirikan sekolah wanita di timur pintu gerbang perkantoran Rembang. Eitss, kalo bahas biografi kartini mungkin kita akan membuat sebuah Artikel Biografi tapi ini Artikel-artikelan. kalian bisa banget tonton Film Kartini di platform Nonton kalian ya!

Berangkat dari surat-surat yang ia tuliskan, terbitlah buku yang berjudul "Habis Gelap Terbitlah Terang" yang dulu merupakan buku dengan bahasa Belanda dan kini sudah menjadi salah satu buku paling berpengaruh dalam sejarah pergerakan emansipasi wanita di Indonesia. Jadiin buku ini salah satu wishlist bacaan kamu yaa peeps!

Well, dari biografi singkat tentang RA Kartini, tentu kita semua tahu bagaimana berjuangnya beliau demi Emansipasi Wanita di Indonesia yang kala itu pendidikan hanyalah sebatas kegiatan kecil yang wanita tidak memiliki hak atas itu. Karena pada saat itu wanita disiapkan hanya untuk menjadi seorang istri, ibu ataupun seseorang yang memiliki segala keterbatasan nya.

Pendidikan, adalah satu satu pakem terbesar yang harus dimiliki oleh semua perempuan. Bukan hanya sebatas untuk mendapatkan gelar ataupun sebatas pengetahuan. Tapi, dengan pendidikan perempuan akan dibuat memiliki pola pikir yang luas, memiliki integritas yang dapat di akui oleh dunia yang kadang tidak adil terhadap perempuan, dengan pendidikan juga perempuan memiliki moral dalam hidupnya, dirinya dan juga orang sekitarnya. 

Perempuan adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya, tapi lebih dari itu perempuan adalah tolak ukur bagaimana kehidupan berjalan. Bagaimana tidak? berdasarkan Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Kewirausahaan, Vol 8 tahun 2024,  Berdasarkan penelitian tersebut, ditemui bahwasanya angka harapan hidup punya pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Makin rendahnya tingkat ketimpangan gender pada sisi kesehatan menunjukkan bahwasanya angka pertumbuhan ekonomi makin meningkat. Hal ini dikarenakan meningkatnya jumlah perempuan yang lebih sadar akan pentingnya kesehatan. juga berdasarkan KEMENKO PMK "Perempuan bisa menjadi aktor strategis di dalam pembangunan. Tidak hanya pembangunan di desa-desa, tetapi juga pembangunan secara nasional yang dapat mengubah kehidupan masyarakat Indonesia menjadi lebih baik dan sejahtera"  Ini adalah bukti bahwa perempuan memiliki pengaruh besar terhadap kemajuan sektor di sebuah negara.

Lalu apa urgensi nya RA Kartini dan juga Emansipasi serta sepak terjang Perempuan?

Sebagai perempuan saya mengucapkan bahkan mengapresiasi dengan sepenuh hati karena Berkat RA Kartini, detik ini saya sebagai seorang perempuan memiliki kebebasan dalam bersuara, mengambil keputusan dan juga memilih pendidikan yang saya butuhkan. Berkat RA Kartini juga kita bisa berada pada Kesetaraan gender yang mungkin dapat kita syukuri detik ini, perempuan dapat bekerja, memilih pendidikan sampai pada jenjang pendidikan S2 bahkan lebih dari itu, memilih kebebasan dalam berpikir dan mengambil keputusan. HIDUP EMANSIPASI PEREMPUAN! 

Terlepas dari itu masih banyak sekali ketimpangan gender dan pengecualian untuk perempuan, masih banyak keterbatasan dan juga ruang yang tidak aman untuk perempuan. Banyak sekali kasus yang membuktikan bahkan di era serba maju ini, padahal jika kita kaitkan dengan kemajuan berpikir, seharusnya perempuan memiliki ruang kebebasan yang aman. Seperti kasus pelecehan seksual di tempat umum, di transportasi umum bahkan di rumahnya sendiri. Jelas ini adalah salah satu hal yang serius dan perlu dikaji lebih dalam oleh pemerintah. 

Banyak sekali Sepak Terjang yang di lalui perempuan. Banyak keterbatasan yang diciptakan oleh lingkungan yang membuat perempuan memiliki batasan-batasan dalam melakukan sesuatu, padahal itu bukanlah sebuah hal yang akan terlihat ideal di kehidupan masing-masing perempuan. 

"Jadi perempuan, jangan sekolah tinggi-tinggi nanti gaada cowok yang mau"

"Jadi perempuan, jangan suka beropini dan bebas berpendapat, sama aja kamu bengal susah di atur"

"Jadi Perempuan harus nurut jangan suka bantah dan membela diri"

"Jadi perempuan harus bisa masak, kerja, urus anak, urus rumah, urus dapur sampai kasur"

"Salah mu sendiri, pake baju ga bener. ya wajar aja dapet pelecehan"

"Kamu perempuan cepet nikah nanti gaada yang mau"

"Kamu perempuan, gabisa ngerjain ini"

"Kamu perempuan, gabisa jadi atasan karena nanti kalo udah melahirkan kamu  gabisa kerja"

Rasa-rasanya kalimat ini adalah kalimat paling sering kita dengar dimana perempuan banyak di tuntut untuk serba bisa, apabila tidak menjadi kenyataan dalam waktu yang di tentukan, rasanya tuntutan ini berubah menjadi sebuah ultimatum yang mematikan perempuan, dan manjadikan Labeling buruk terhadap perempuan tersebut. 

Mungkin, setelah menikah perempuan akan memiliki keterbatasan ruang karena ia berpatokan pada suami. Setelah memiliki anak, ia memiliki 2 ruang yang membuatnya hidup berdampingan terhadap ruang-ruang tersebut. ia lupa bahwa perempuan juga memiliki ruang nya terlepas dari kewajiban nya menjadi seorang ibu dan juga istri. Inilah penting nya memilih lelaki yang mau andil dan sadar akan kebersamaan ataupun memiliki pengartian yang baik terhadap arti "Kesetaraan Gender" itu sendiri. Belum lagi kuliah, dimana setelah lulus rasanya kita harus kejar-kejaran dengan karir, tabungan diri sendiri, kebahagiaan keluarga dan kewajiban menikah karena umur. HUH! YA GAK SIH?

Seperti pembahasan Artikel-artikelan tentang Feminis dan kesetaraan gender. Perempuan diciptakan bukan hanya untuk menjadi pemuas nafsu para laki-laki, bukan objek seksualitas, bukan makhluk yang diciptakan hanya untuk melahirkan, dan bukan makhluk yang tuhan ciptakan dalam kesia-siaan. Perempuan adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya, Perempuan adalah makhluk yang tuhan ciptakan paling indah dan sempurna, perempuan adalah makhluk yang memiliki banyak mimpi dan cita-cita, dan perempuan adalah makhluk yang harus di hormati. Emansipasi Lebih luas pengartian nya, Pendidikan, Kebebasan dan hidup tanpa berdampingan dengan Sterotype buruk terhadap seorang perempuan yang berbeda dari perempuan-perempuan yang dinilai "IDEAL" di tengah kehidupan yang kompleks ini, dan terbebas dari jebakan-jebakan patriarki di lingkungan Rumah tangga atau Lebih dari itu.

Dari RA Kartini kita harus belajar. Bahwa Perempuan memiliki pola pikir yang jauh lebih maju dan matang apabila memiliki kebebasan berpendapat dan banyak belajar. Jangan biarkan kita menjadi perempuan yang mudah untuk direndahkan. Jadilah perempuan yang mahal dan berharga, tapi bukan dari gaya yang terlihat sosialita, tapi dengan pemikiran yang berbeda dan menyalah.

Jadilah perempuan yang dapat membuktikan bahwa Perempuan bukan makhluk yang hanya memanfaatkan paras dan raga saja, tapi juga kemampuan dan pemikiran. Jadilah Wanita cerdas, kuat dan bijak dalam bergerak. Jadilah wanita yang seimbang, dan jadilah wanita yang apabila dimiliki menjadi pengaruh terbesar dalam sebuah kehidupan yang baik. 

Tapi, at the end. Saya akan bilang 

"woman support woman is a must,

 but not all women need to be supported!" 

Woman is a big deal if they don't have a progressive mindset, jadi ayoo kita gunakan Emansipasi yang sudah di perjuangan keras oleh Kartini, sebagai sebuah keberuntungan yang besar dan manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Selamat Hari kartini!

Habis gelap terbitlah terang! Hidup Emansipasi Perempuan
Sampai Jumpa di artikel-artikelan selanjutnyaa smart reader! 

-Putri


Sumber/ DP:

  • https://instiki.ac.id/2024/04/21/mengenal-habis-gelap-terbitlah-terang-karya-ra-kartini/
  • JPEK (Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Kewirausahaan) Vol. 8, No. 3 Desember 2024, Hal. 1210–1222
  • https://www.kemenkopmk.go.id/optimalisasi-peran-perempuan-dalam-pembangunan
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini
  • https://putriayliana.blogspot.com/2024/04/patriarki-pembunuh-perempuan-salah-gak.html



Komentar